Batakberkesan Weblog

memorie`s & future of Batax`s

Naniura

Hidangan ini merupakan makanan khas suku Batak.
Berbeda dengan Arsik, makanan khas Batak lainnya yang direbus atau dikukus, menu yang juga mengunakan ikan mas sebagai menu utama adalah dengan cara tidak dimasak.
Arti dalam bahasa batak, naniura adalah ikan yang tidak di masak.
Namun rendaman asam jungga yang secara kimiawi kemudian mengubah ikan mentah menjadi tidak terasa amis dan siap disajikan.
Ingin mencoba?
Bahan-Bahan :
0,5 kilogram ikan mas
3 biji asam jungga
0,25 ons andaliman
1 onskemiri
5 cm lengkuas
5 cm kunyit
2 ikat rias
5 siung bawang merah
3 siung bawang putih
Kacang goreng tumbuk secukupnya
setengah ons cabe merah
Cara memasak :
1. Ikan mas dibersihkan dari sisik, kemudian ikan dibelah dua dari punggung ikan. Duri ikan dikeluarkan semuanya. Sesudah bersih, ikan digarami dan diasami. Dibiarkan selama 6 jam.
2. Kemiri di gongseng, dibiarkan dulu. Jahe, kunyit, bawang merah dan putih di goreng. Kemudian rias dikukus, sedangkan cabe digiling. Seluruh bumbu kemudian diulek (tumbuk).
3. Bumbu dimasukkan atau diolesi ke permukaan ikan. Biarkan paling tidak 1 jam lagi.
4. ketika akan di hidangkan taburkan kacang goreng tumbuk secara merata di atas ikan mas, Siap dihidangkan
(berbagai sumber)
naniura

Iklan

24 Januari 2009 Posted by | opini | 2 Komentar

Ombus-ombus las kede… (Snack tradisional batak part 3)

Parombus ombus do…
lampet ni humbang I, mancai tabo ….
sepenggal lagu khas humbang (siborongborong red), yang di populerkan oleh artis top batak, Viktor Hutabarat, mengingatkan kita pada kota ombus-ombus, Siborongborong.
Persis dipertigaan, kota Siborongborong, sebelumnya lebih dikenal dengan simpang tugu, para pedagang ombus-ombus berjibaku sudah hampir 4 generasi yang lalu, menawarkan dagangannya hampir kesetiap penumpang angkutan umum maupun angkutan pribadi.
Sekitar tahun 1979 yang lalu para pedagang ombus-ombus tersebut tidak hanya diwilayah Siborongborong (SBB), bahkan sampai ke Balige (28 km dari SBB) dan tarutung (30 km dari SBB) dengan menggunakan sepeda. “Waktu itu, pedagang ombus-ombus ada sekitar 80 unit, jadi kita menyebar, bahkan ada yang sampai Dolok Sanggul (32 km dari SBB), dan terhimpun dalam koperasi parombus-ombus.
Ombus-ombus dibuat dari bahan tepung beras pilihan, yang dicampur dengan gula putih serta diaduk dengan kelapa parut dan sebagian lagi menggunakan gula merah kemudian dibungkus dengan daun pisang lantas dikukus layaknya seperti membuat panganan dari tepung beras lainnya.
“Tepung beras yang digunakan adalah pilihan dan tidak bisa sembarang, dan kelapa harus diparut tangan (manual), jika dengan parutan mesin, patinya akan hilang, serta daun pisang pembungkus yang digunakan juga tidak sembarangan yaitu jenis ‘ucim’ (pucuk teratas daun) karena sangat berpengaruh terhadap rasa ombus-ombus.
Pengerjaan membuat ombus-ombus dimulai dari pengadukan tepung dengan air panas mendidih, kemudian pada jam 3 dini hari dilakukanlah pembungkusan serta pemberian gula, lalu dikukus dan jam 7 pagi, ombus-ombus siap dipasarkan. Prihal ombus-ombus tetap panas meskipun dijajakan seharian penuh, Tampubolon, menjelaskan bahwa tehnik penyusunan ditandan penyimpanan adalah kunci utama.
Yang membuat ombus-ombus tersebut menjadi khas, adalah salah satu sisi pelipatan daun menjadi empat persegi, dan ini disusun dengan rapat pada kantongan tandan, lalu dimasukkan kedalam kaleng yang ditempatkan pada gerobak sepeda, “inilah yang membuat ombus-ombus tetap hangat meskipun dijajakan seharian penuh”, ungkap Tampubolon salah seorang pedagang ombus-ombus dengan gerobak biru di sepedanya.
Keberadaan pedagang ombus-ombus saat ini mulai tergeser oleh maraknya makanan-makanan instan dan snack pabrikan yang membanjiri pasar. Ini terlihat dari jumlah pedagang ombus-ombus yang tinggal hanya 11 gerobak yang terbagi dalam 2 group untuk beraplusan/bergantian. “Kami berdagang rutinya, hanya sekali dua hari, itupun kadang kala dagangan kami tidak habis terjual,” ungkap Tampubolon dengan sedikit lesu. Ditambahkannya bahwa berdagang ombus-ombus awalnya dapat menopang kehidupan keluarga, “rumah ini terbangun dari usaha dagang ombus-ombus dan anak-anakku juga berhasil sekolah meskipun hanya tamat SMU dari usaha ini,” jelas Tampubolon. (jery marbun & Tani Siringoringo_Tapanuli News)

20 Januari 2009 Posted by | snack tradisional batak | , | Tinggalkan komentar

dali (kuliner khas batak)

Dali atau bagot ni horbo yakni, air susu kerbau yang diolah secara tradisional dan merupakan makanan khas dari daerah Tapanuli.
Konon menurut ceritanya, tradisi mengolah susu kerbau menjadi dali sudah dimulai oleh leluhur orang batak semenjak adanya komunitas batak. Pada setiap rumah makan khas batak, dali menjadi menu utama. Untuk mendapatkan dali, umumnya di setiap onan (pekan, red) didaerah Tapanuli, dali menjadi komoditas dagangan.
Kandungan giji pada dali, secara umum, tidak berbeda dengan kandungan gizi susu lainnya seperti, lemak, karbohidrat dan protein, hanya berbeda pada pengolahan, dali diolah dengan sederhana dan menggunakan peralatan tradisional dan tidak menggunakan unsur kimia.
Induk kerbau yang susunya akan perah, bila bayi kerbau berumur 1 bulan, hal ini dimaksudkan bahwa pasca melahirkan bayi kerbau belum mampu mengkonsumsi makanan biasa, dan masih mengandalkan air susu induknya selama satu bulan penuh.
Pemerahan kerbau untuk mengambil susunya, dilakukan sekitar jam 6 pagi hari, hal ini dimaksudkan agar anak kerbau tidak terganggu dari kebiasaan menyusui. Banyaknya susu yang dapat diperah dari seekor induk kerbau rata-rata 2 liter perhari, “sebenarnya kalau dioptimalkan bisa 3 hingga 4 liter perhari, tetapi pertimbangan untuk kebutuhan anak kerbau kita hanya perah sekitar 2 liter perharinya dari setiap induk kerbau”.
Sebelum susu kerbau di perah, terlebih dahulu puting susu dibersihkan dengan air hangat, hal ini dimaksudkan untuk menjaga kerbersihan susu, serta merangsang puting susu.
Seekor induk kerbau dapat diperah susunya hingga 5 bulan, akan tetapi anak kerbau mengkonsumsi susu induknya bisa sampai 8 bulan, menurut Paian dibulan ke 6 pasca melahirkan kwalitas susu sudah tidak layak untuk dikonsumsi manusia. Untuk menambah kwalitas dan kwantitas susu, induk kerbau diberikan makanan ekstra, ubi jalar dan dedak diaduk dengan garam secukupnya serta dicampur dengan beberapa jenis vitamin.
Proses selanjutnya, susu hasil perahan di rebus sekitar 10 menit dalam wadah yang steril dengan menambahkan air nenas untuk membantu pengentalan susu serta mengurangi aroma keamisan.
dali juga bisa dicampurkan dengan air perasan daun pepaya.
Konon katanya beberapa pelanggan memesan susu kerbau mentah untuk keperluan obat tradisional.
Pada zaman moyang kita dulu, wadah untuk perebusan susu masih dari kuali tanah, namun dikondisi sekarang kuali tersebut sulit didapatkan. Dari sisi rasa, perebusan di wadah kuali tanah jelas lebih baik dikarenakan panas yang diserap dalam perebusan susu berbeda dengan wadah kuali nikel yang lazim digunakan sekarang.
Harga jual di onan/pasar tradisional di tapanuli menggunakan ukuran kobokan sekitar 1 liter dijual seharga 20ribu rupiah.”Sebenarnya, mengolah dali sangat sederahana, tetapi peternak kerbau disini tidak memberikan perhatian untuk mengolah dali”.
mengenai rasanya & bentuknya seperti kembang tahu (liha foto)
bagaimana…?? anda tertarik
pak simanjutak & anak horbonya memerah susu horbo di pagi hari
dali ready to eat… yammi

19 Januari 2009 Posted by | opini | 2 Komentar

TAROMBO BATAK( sundutta – generasi kita ) dari LUMBAN GAOL

TAROMBO BATAK

( sundutta – generasi kita ) dari LUMBAN GAOL.

SI RAJA BATAK

Guru Tateabulan, Raja Sumba.

Tuan Sori Mangaraja, Raja Asi-Asi, Sangkar Somalindang.

Nai Ambaton, Na Rasaon, Sorba Dibanua.

SibagotniPohan, SipaetTua, Silahi Sabungan, Siraja Oloan, Siraja Hutalima, Siraja Sobu,

Raja Naipospos

Toga Marbun, Toga Sipoholon

(simanungkalit-sibagariang-sihotang-)

1. Lumban Batu, Banjar Nahor, Lumban Gaol.

2. Ronggur Barita, Tuan Jolita.

3. Tompa Siriaon, Tuan Sianggasana, Tunggal Nabolon.

4. T.Nasobal, G.Manalaksak, P.Ulubalang, R.Irumana, Isampurna, R.Boni, S.Datu, R.Bona, S.Sabungan, N.Bilang, T. Dairi.

5. O. Tarabini, O. Toga, O. Sampe, Tuan Silamin, O. Pangisi.

6. O. Tinami.

7. Datu Garaga, O. Raja Paung.

8.Ompu Tuan.

9.O. R. Gugun, O.Pallahang, O. Pangear, O.Sunggu, R.Parsengketa, Rongumiadji, A.Gosta

10. O.Raja Sonang, O.R. Ulangtali.

11. O.Pangarandang, O.Parjambe Dolok(Partanduk).

12. O. Hatunggal, O. Torop, O. Porhas, O.Bisara, O. Banua.

13. O. Buntu, Barita Mopul, O. Manail, O. Marsanggul, O.R.Ulubalang, O.Santik.

14. A.Somangadi, O. Sohuturon, Pallatang(O.Joshua), A.Tornaginjang.

(O.Manahar)

15. Waldemar(ATNagaja), R.Jacob, Gito, Mangantar, Natar.

(O.Suhut)

16. (Basaria), Manahar, Louis, (Timoria) Aman, (Tioria).

17. Maraden P. Suhut Budi Jhoni S. Jimmy D. Marudut

Rukki P. Erlida Novita Dimpos S. Julianus P Elisabeth

Hayati P. Edison Agnes Linda Jeffri T.

Edward P. Nursalam Anastasia Jujur Jerri Jojor

Jamotan Petrus Jujur Larry Sena

Barto P. Lasma Roslita Ganti LG (borja)

Hermina Lamtiar

Rosma Roganda

Marolop Agus.

Herlina.

TAROMBO – PLUS.

Generasi ke-XIII ( Barita Mopul ) Lumban Gaol.

/br. Nainggolan: ke-XIV : 1. O. Sohuturon ke-XV : A. Jata – O.Moli,Jonggi

/ br. Banjar Nahor Zairus – Asal,Baja,Badu

/ br. Munte.

2. Nai Johanna (laeni Hisar)

/ Simamora – Hermanus S

3. Nai Kanna – Binus S – Dayat, Tumpal

/ Sitinjak – Philipus S Amir

Titus

4. Nai Rumina

/ Sarumpaet

5. Nai Osti – Gayus

/ Pasaribu – Gerhard

6. Nan Sawan

/ Siregar (Pollung)

7. Nan Tio Domu P, Natar P

/ Purba (Dolok sanggul)

8. Nan Tarea

/ Silaban ( Silaban)

9. Nai Lompe

/ Simamora

/br. Sitinjak : ke-XIV 1. A. Somangadi ke-XV : Manase – Gr.Henock

/

2. Pallatang (O.Josua) : Nan Dagul + 2 boru.

/br. Sinaga Tor Naginjang

/ br. Sinambela, R.Pontas – Arden

Kp.Pipin + 1- Walter

3. A.Tornaginjang (O.Manahar)

/br.Pandiangan

/ br. Sinambela : Waldemar+1 – Manahar

/ br. Sitinjak Jacob + 5 -Hasudungan

/ br. Banjar Nahor. Taruli + 3 – Heppy

4. Nan Toi

/ Simbolon – (Palembang?)

5. Nan Doli – Haliang P.- Regen – Sundar

/ Purba. Binsar

Jubel

Generas ke-XIV (O. Sohuturon)Lumban Gaol

/br. Banjarnahor

Generasi XV Generasi XVI Generasi XVII Generasi XVIII

1. A. Jata+ Antonius (O.Moli)+ Saur Mollina br

/br.Banjarna /br.Banjarnahor /br. Sitinjak /Aritonang

Hotbin

/br. Situmorang

Merpha br

Engli br

Ida br

Lasmaria br

Parasian Fransiscus

/br.Tampubolon Zoel

Paraduan

/br. Siregar

Milpen Dosmi br.

/br. Bakkara

Agus

Jonggi (O.Mangitar) Pinonda Mangitar

/br. Munthe+ /br.Sihombing Maria Casma br

Ira br

Herlina br

Mardongan

Daniel

Bunga br. Atmin LB

/Lumban Batu Polman LB

Deddy LB

Renhard LB

Butet br LB

Rosma br Verando S

/Sihite Butet S

Joko S

Maslan br

/Sitinjak

Marsingkat

Batal (O.Dipson)+ Siti br

/br.Siambaton /Lumban Batu

Mardingkan Dipson

/br. Banjar Nahor

Mangiden

Usman

/br. Simamora

Malpon

/br. Pangaribuan

Rajin

/br. Situmorang

Mangadar

/br. Sinaga

Mangumban+ Jaingot Lisda br

/br. Lumban Batu+ /br. Banjarnahor Sitorus LG

Marhehe

/br. Siregar

Marangkup

/br.

Mida br

/ Saragih

Tiar br

/Saragih

Mene Miduk

/br. Simanullang /br. Sinambela

Paian

/br..

Dimpos

/br. Sinambela

Dapot

Nai Marulam+ Marulam M

/Manik + Jamanat M

Rantun

Nai Parningotan+ Parna T

/Tamba + /br.Lumban Gaol

Tua T

/br.Lumban Gaol.

Derma br T

/Lumban Gaol

Rusli br T

/Banjarnahor

Masnur br T

/Simanjuntak

Nai Urda + Urda br S

/Sitinjak + /Sinaga

Mina br S

/Sihotang

Nurmala br S

/br. Sitinjak

/br. Munte

2. Zairus + Asal + Rusmi br

/br. Bnahor /br. Silaban /Lumban Batu

Renta br

/..

Ramli br

/Tamba

Sopan

/br.Simanjuntak+

Harapan

/ br..

Hotler

/br.

Baja Lindung

/br. Purba /br.

Badu + Juara

/br. Simamora+ /br.Banjarnahor

Maju

Sabam

Minta

Lamsihar

Ebasan

Santa br

Nai Rihat+ Rihat

/ Purba + Pantur

Jaindar.

3. Nai Kanna

/Sitinjak (Dayat)

4. Nai Johanna

/Simamora (Tapian Nauli)

5. Nai Rumina

/Sarumpaet (Saba)

6. Nai Osti

/Pasaribu (Sp. Tolu)

7. Nan Sawan

/Siregar (Pollung)

8. Nan Tio

/Purba (Dolok Sanggul)

9. Nan Tarea

/Silaban (Silaban)

10. Na Lompe

/Simamora (Bonan Dolok).

Generas ke-XIV( A. Somangadi) Lumban Gaol

/br………………….

Generasi XV Generasi XVI Generasi XVII Generasi XVIII

1. Manase+ Gr.Henock ……….br./B.Nahor. Walman B. Nahor

/ br,Siregar Kaman Banjar Nahor

Hotlen Banjar Nahor

Marlindung B Nahor.

……

……….br./Simarmata Maklum Sim. /br.Lumban Gaol

Mardongan Sim

Borohim Rumondang br.

Br. Hutauruk+ /Situmorang

Monang

/br jawa

Rosita br Zupiter

/br. Sitorus

Mangatas

Beattus.

Simson Lucya br. 3-b2br

/br. Sitinjak /Munthe

Bongsu 1-b 2br

/br. Sianturi

Rumintang br 1-b 1br

/Pasaribu

Pardamean 1-b 4br

/br Pasaribu

Alfred 1-b 4br

/br Siregar

Marsanggam 1-b 1br

/br.Lumban Batu

Gista br

Mardimpos

Lesima br.

Gurindam Jahantus 1-b 1br

/br.Lumban Batu / br Malau

Justinus 1-b 1br

/br.Ompusunggu

Jontar /br.Nainggolan

Jannius

Dinar br

Idewaty br

Ripa

/Siregar 3 b

2 br.

Johana 2 b

/Sinaga 3 br

Generasi ke-XIV Pallatang (O. Josua) Lumban Gaol+

/br. Sinaga+

Generasi XV Generasi XVI Generasi XVII Generasi XVIII

1.Nan Dagul br+ Kasianus LB Manuara LB

/ Lumban Batu+ Cornelius LB

Justin LB

Angkus LB …………..

A. Kanada LB

Gole LB. Shinta

Sopar LB

Pajiman LB

Zakeus LB Jansen LB

Mangoloi LB

Jongar LB Sahat LB.

2. Nai Aris br+

/Sinaga+

/Munte+

3. …… br.Gaol+ Siangkat Lombang

/ Simanullang+

Generasi ke-XIV Pallatang( O.Josua) Lumban Gaol+

/br. Sinambela+

Generasi XV Generasi XVI Generasi XVII Generasi XVIII

1. Tor Naginjang +

2. R. Pontas+ Arden+ Dina br. +

/br. Sitinjak+ /br.Sinaga+ Esti(N.Hotma) Hotma br.BN

/ Banjar Nahor+ /Nainggolan

Lamhot br BN

/Nainggolan S

Mangisi BN

Mindo

/

Lince br BN

/Simanullang

Pendiawan

/br.Lumban Gaol

Lamtiar br BN

Nasrun BN

Theodora br Monica br LB

/Dj.Lumban Batu /

Frisca br LB

/

Kanada LB

/br. Sinaga

Urba br.LB

/Simanjuntak

Pargaulan Manonson :Frans

/br. Sitinjak /br. Sinulingga Lia

Betty br

Tiolan br

Dormauli br

Alam Pope

Tumegas Nasib Butet

/br. Siregar / br. Siregar

Suherlin

/P.Banjar Nahor

Parsaulian Pardomuan

/br. Sinaga Iin Parlina

Natalia

Erikson

Nicodemus

Theodorus

Parulian Ance

/br.Sirngo-ringo Awat

Maria

Philemon+ Goroi+ Sumurung – Sabrina

/br. Nainggolan /br.Siregar /br. Aritonang

/br.Aritonang Sadima br

Polo+

Juluan+

Hotni br Dikky P..

/Pardede Mei br.P

/Sinaga

Saut

Hiras

Nurad

Serep Roha

/br. Marpaung

Sintong+ Sampe+

/br. Sitinjak+ Marudut

Ria br 6 b

/Sianipar 2 br

Juniar+

Maruli+ Haposan Mangatur

/br. Lumban Batu /br. Simanjuntak Morsan

Andreas

Lidya br

Eduard Yantoni

/br. Siboro Daniel

Albert

Ledy Songkar

/br.Lumban Batu Martin

Immanuel

Fransisca br

Marina br

Helen br

Theresia br

Lourdes br

Saurdot

Pascalis Desi

/br Lumban Batu

Sorti br Pandapotan S

/Simamora Fransiscus S

Parlin S

Dewi br S

Verawati br S

Dahlia br S

Marince br Conrad S

/Sinambela Dodi S

Novendri S

Goretti br Samuel S

/S. Sianturi Johannes S

Novalima br S

Naomi br S

Magdalena br Michael S

/Simanullang Josua S

Veronika br. Ricardo M

/Manalu Iwana br M

Krisdiana br M

Olivia br M

Naema(Nalete)+ Lete br+

/ Simanullang+ Clara br

Maju S.

Kesar S.

Rumintang S.

Silla(Nai Manukkar) Manukkar+

/ Banjar Nahor + Norma br

Nurmala br

Maruba Bn.

Manihar Bn

Rotua br

Mardongan Bn

Carolina br Berna br

/ T.R. Siregar+ Ondi S.+

Efendi S.

Naesta br

/Lumban Batu

Baringin

Bonar

Sorta br

/ Lumban Toruan

Generasi XV Generasi XVI Generasi XVII Generasi XVIII

3. Kp. Pipin + Tiomas br Sondang br

/br. Sinambela /Sihombing+ Baligas +

Karolina S

Sabar S

Jenner S

Maretta br S

Lindung S

Rosdiana br S

Manaor S +

Tiobonor (Zr.Imeldina)

Walter Rusli br +

/br. Simamora Prima Sudiati br + Rumondang br S

/Simanullang Morina br S

Indah Lestari br S

Cornelius S

Alex S

Asna Frika br Demak br M

/ Munthe Pardi M

Nani br M

Nova br

Budiman Regina br.

/R. br.Togatorop Anna Maria Putri Elisabeth

Minta Asih br Juniarto P

/ Purba Tomy P

Magdalena br P

Joy Raveli P

Tetty P

Tiolima br Fransisca br S

/ Simanjuntak Leonardus S

David S

Eric S

Diana br S

Roma Asih br Yuan S

/ Sitohang Paul S

Florentina br Yius br S

/ Simanjuntak Erwin S

Yoga S

Yogi S

Rismauli br Muara LB

/ Lumban Batu

Porman Celin br

/br Manalu …. br

Adelbertus

/br Simamora

Paratal Boroldus Jonathan

/br Bakkara /br. Silalahi

Ronald 1.

/br.Nainggolan 2.

Dortua br +

Siti br

Bernard/br.Jawa

Tionom br Yulio

/ Siringo2

Lucy br

Belseng Imelda br

/br. Sinambela Amir

Marta br

Gonsar

Herbika br

Taripar Laut Julinda br Natasia

/br.Marpaung /Sipahutar Yeye

Yesica

Aditys

Baryatmo Binongasih

/br Manullang

Parluhutan + Agatha Rizky Ananda

/br.Siregar

Felix Januarius Satrio Habonaran

/br.Sinaga Bintang Kartika

Samudra Hamonanga

Suryadinata

Donnie br Mateus Octario

/Lumban Batu

Dominica br

Theresia br.

Osman Pitaomas br

/br. Sibarani Panahatan

Herna br

Binsar

Anna

Burhan

Generasi XV Generasi XVI Generasi XVII Generasi XVIII

3. Kp.Pipin

/ br. Banjar Nahor+ Tianggur Rodua br S/ Nadeak

/ Siregar ………….br S/Sinaga

Zulkar/br.Simanjuntak

Pintor Perdin+ Jaipar

/ br. Banjar Nahor Jhonson

Simon +

…………..br./Sinaga

Renta br /Purba

Sarman +

/ br. Purba

Tiurma br Edu

/Banjar Nahor

/ SundarPurba

Tionom br

/ Sinaga

Sabam br

/Lumban Batu.

4. Nan Tiabur+ Tiabur

/ Lumban Tobing+ Serep Roha/br.Panggabean

Tainur br/Rajagukguk

Kanna br/ Hutapea

Sorta br/ Si

Mina br / Siregar

Intan br / Simatupang.

Generasi ke-XIV A.Tornaginjang (O.Manahar) Lumban Gaol+/br Pandiangan+

/br. Sinambela+

Generasi XV Generasi XVI Generasi XVII Generasi XVIII

1. Waldemar(ATN)+ Basaria+ Maraden Purba Erma br P

/br.Siringo-ringo+ /M.Purba+ /E. Br Lumban Gaol

Rukki br.Purba Sondang br LG

/B. Lumban Gaol Herbin LG+

Hayati br.Purba Tambun S

/ Sihombing+ Hiras S

Tutur br S

Edward Purba Lindung P+

Br. Tololaki Gundul P

Ajan P

Bartolomeus P Tiur br P.

/ br. Sianipar Pande P

Gabe P

Hermina br.Purba Juli N

/Napitupulu Richard N

Uli br N

Rosma br.Purba Boris S

/Sitanggang Kevin S

Damri S

Siraja S

Marolop Purba Ucok P

/br Dayak

Herlina br.Purba

/Banjarnahor

2. Asina br. +

T.Nagaja +

Manahar Suhut Robert

/br.Sinambela+ /br. Simamora Ronald

Lasma br

Oscar

Delima br

/br.Siringo-ringo+ Erlida br Erma P

/M. Purba

Edison Fransiskus

/Br. Sihombing Nico Jaya

Reni Fatmawati br

Nursalam br Clinton S

/ Sihombing Clarita br S

Jamotan. Dorkas br

/br Siringo-ringo

Lodewijk + Budi. Tommy Gok

/br. Siahaan /Br Saragih Abdi

/br. Saragih Bonaventura+

Novita br Nancy S

/ Sijabat Roy S

Agnes br Febrina br S

/ Sitanggang Appre S

Sisca br S

Rista M br S

Anastasia br Galuh Landita

/Anto Suryanto Rangga Stepanus

Lasma br Catrine br S

/Simanjuntak Astrid br S

Butet br S

Petrus Bunga Christne br

/br Jawa

Harun +

Bungaran+

Timoria Jhoni Samuel S

/K. Simanullang / br. Simanjuntak Josep S

Joshua S

Dimpos+ Desiana B br

/Br. Sitompul Ria Winda Eliza br

Bonata Ericson

Linda Santi br P

/ Purba Fransiscus P

David P

Johannes P

Roslita Yuda Sahalatua

/ Lumban Gaol Kevin Michael

Lusi Naomi Michela

Lamtiar/Lubis Putri br L

Jujur S/br.Siburian

Roganda

Agus.

A m a n Denny+

/ I.br. Pandiangan Jimmy D/br.Parapat (Johana Kristiasih)

Julianus P./ br.Sihombing (Feliszia)

Jeffri T.

Jerri J.

Larry S.

Ganti br.LG/Simanullang

Tioria Marudut Mora

/SO.Simamora /br.Simamora

/br.Sihotang Lukas+Putra

Elisabeth

/ Pakpahan

Generasi ke-XIV A.Tornaginjang (O.Manahar) Lumban Gaol+

/br. Sitinjak +

Generasi XV Generasi XVI Generasi XVII Generasi XVIII

1. R. Jacob + Hasudungan David

/br. Sinambela + / br. Sianturi,SE Wulansari br

br. Sibarani+

Sondang Bulan Marinda Lydia S

/E.Simanjuntak Tesalonika S

Kristaria

/I.Napitupulu

Tumbur

/

Janpieter

2.Nantio Rugun+ Nai Manarsar+ Manarsar

/ Siburian+ / A.Nababan+ Robin

/ Simatupang Purnama

Delina

Nai Herta Herta

/L. Gaol. Manguliman

Rosdiana

Tionom

Karel Bajongga

/br. Manik Petrus

/br. L. Gaol. Lindung

Garuda

Parulian

Helena

Melan

Rosminta br Tongam

/Simanullang . . . . . . . . . . . .

3. Gito(O.Lamsihar+ Jahara Lamsihar

/br. Sitinjak+ /br. Siregar Manat

Mangiring

Ulina

Herli

Dorma

Ani

Nelli

Gugun Fernando

/br.Sitanggang Binsar

Minar

Iul

Putri.

Mulana Martua M.

/J. Munthe+ Parulian M.

Manggiling M

Bernard M.

Ros M.

Ida M.

Epi M.

Ruslan

/ Sitinjak

Pita + br Poltak S.

/Aman Saragi Jubel S.

Lasmaria S.

Mondang S.

Arta br Hotler S

/ G. Sinaga Rosdita br

Herma br

Jepri

Firman

Dongsita br Kristin br S

/ M. Siburian Enjelina br S

Samuel S.

/br. Hutasoit Maruap

Luhut

Polma br Heri S

/B. Simatupang Gunawan S.

Lina br

Hotdita br.

4. Nai Mangisi Tiomas Hotman S.

/Banjar Nahor+ / Sinaga+ …………….

Mangisi Bn Vera Bn

/br. Pangaribuan ……………..

Sahat Bn. Thomson Bn

/br. Sihombing. Tulus br.

5. Daram +

6. Mangantar Hannes Luci br.

(O.Kumpulan) /br. Nainggolan. Eva br.

/br. Lumban Batu Kumpulan

br.Lumban Batu Sentia br.+ Jam

br. Banjarnahor Mamuar + Anita br.

Norita br Freddy S.

/A.Sitinjak Feronika br.S.

Natalia br.S

Ika S.

Lius S.

Roselina br S.Betty S.

/E.Sinaga S.Betia S.

Sri E. S.

Frandsdinand S

Yennu S

Siska S.

Marsaulina br Testrinai S

/ Sitinjak Theni S.

/B.Lumban Batu Tantri S

Hotria LB.

Ngolu LB.

Basado LB.

Diana br Benny LB

/O. Lumban Batu Nova LB.

Sondi LB

Maju L. LB

Ecok LB.

Robekka br. Roland S.

/M.Sirait Butet S.

Edy S.

Maruahal Tiffani br

/ br. Simare-mare A.Marsusun

Hulman Yanti br

/br. Situmorang Martua

Resbol Berto M.

/S.br.Situmorang Sentia br.

Matogu Mery br

/H.br. Haloho Mely br

Juni Glory

/T.br.Simanjuntak Stevanus

Bahtiar Butet br.

/l. Banjarnahor

Osmar Rikky

/ R.br.Simamora

Mangandar

Polmar

Panal

7. Natar + Monang Horas

/D. br.Simanjuntak /A. Br.Sitinjak Hermanto

Lamtiur br

Hernawaty br

Lasmaria br

Udur Melita br

Nurhalima br

Sahata Wasner

/br. Siregar Jaspin

Dani

Rohendi br

Nenrita br

Nestri

Hisar Marluga

/R.br.Simamora Alex Bongot

Iman

Jona

Riwayat br

Saida br

Labora br.

Forledis br.

Japar Marletti br.

/ Nurul Sindi br.

Pia br.

Ojak Rocky

/br.Simanullang Natal

Seven

Butet br

Arnod +

Atur Jon

/br.Sitompul Santi Rika br

Butet br

Marta br Lisda br. H.

/Hutajulu Brans N.

/Nainggolan Minar N +

Fuji N.

Edita br Togar S

/ Situmorang Rijal S

Rico S

Juli br

Mita br

Berlin

Generasi ke-XIV A.Tornaginjang (O.Manahar) Lumban Gaol+

/br. Banjar Nahor.

Generasi XV Generasi XVI Generasi XVII Generasi XVIII

Taruliasta AF. Heppy Bertha br.R Eva Sorta br.S.

/ MAS Rumahorbo+ / Silitonga

Lasma br.R

/BS.Simanullang

Robert MS. R.

/ br. Manik

Butet Joshua S.

/T.Sitorus Pane Juan Nino S.

Johanes S.

Duma Rebecca N.

/N. Napitupulu Adolf N.

Mikael P. R.

/S.br.Sitompul

David H. R.

Gabe A. R.

Shinta F. Theodorus L. P.

/Dj. Purba

Ratna Klara

/V. Rondonowu Mikael

Jansen

Talana Butet br N.

/B. Nainggolan+ Parlindungan (Alin) N.

Josephin(Beby) br. N

Jonatan N.

21 September 2008 Posted by | pribadi | 11 Komentar

Integritas dan Independensi Pers dalam Pemilu

(Selamat atas terbitnya TAPANULI News semoga menjadi sarana pendidikan politik dan gerakan moral bagi masyarakat dalam Pemilu)

Pers merupakan sebagai ujung tombak informasi bagi masyrakat. Kondisi ideal ini akan terwujud jika integritas dan independensi pers dan media massa tetap terjaga. Kenapa media massa/ pers diperlukan netralitas ataupun independensinya dalam setiap pemilihan? Dilihat dari fungsinya media massa/pers merupakan suatu wadah dan organisasi yang bertugas untuk menyampaikan data serta informasi yang nyata dan benar kepada publik terutama untuk permasalahan – permasalahan yang berkaitan dengan kepentingan publik sesuai dengan kode etik pers yang diakui oleh negara dan setiap insan pers. Media massa juga memiliki peran sebagai sumber pengetahuan dan hiburan. Karena sifat media massa yang rutin dan berkala maka secara tidak langsung media massa/ pers memiliki peranan dan pengaruh dalam membentuk cara pandang/ opini masyarakat.

Ada empat unsur yang harus diperhatikan para jurnalis dalam membidani tulisannya agar layak untuk dipublikasikan yaitu ; (1) FAKTUAL/nyata. Data dan informasi yang disajikan terdiri dari kejadian senyatanya (real event), berupa pendapat (opinion) serta pernyataan (statement) saksi/orang yang terlibat/ sumber berita. ”jangan sekali-kali mengubah fakta untuk memuaskan hati seseorang atau golongan. Jika sumber anda dapat dipertanggungjawabkan, itulah yang paling penting”. (2) ; AKTUAL/cepat. Didukung dengan perkembangan teknologi informasi (telepon, email, video streaming, dll) suatu berita (news berarti suatu informasi yang baru/new) harus up to date dan mendekati real time/ waktu yang sesungguhnya dimana ketika kejadian terjadi berita tersebut dapat langsung dinikmati publik. Oleh karena itu seorang jurnalis harus memahami teknologi tersebut. (3) ; PUBLISH/kepentingan umum. News/berita tersebut perlu diketahui masyarakat (UU, bencana,dll) dan menyangkut kepentingan masyarakat. (4) ; MENARIK/disajikan secara apik. Kemampuan journalis dalam menyajikan berita (teknik menulis, istilah-istilah dalam penulisan, bahasa yang digunakan lugas, memiliki sense of humor dalam menulis, dll) sehingga menimbulkan human interest.

The art of writing (seni menulis) merupakan hal penting untuk menjadikan berita lebih menarik dan layak dimuat. Rumus dasar 5W+1H (What-Where-When-Who-Why-How) harus dipegang penuh para Journalis. Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam penulisan berita, sebagaimana yang tertera dalam KODE ETIK JURNALISTIK, diantaranya ; Objektif terhadap suatu berita dengan check and recheck berita. Sebisanya membedakan antara kejadian/fact dan pendapat/Opinion, jangan hanya mencari sensasional. Mamppu memberitakan keterangan off the record/ no name jika diminta sumber berita demi keselamatan dan privacy sumber berita, memiliki integritas sebagai seorang jurnalis dengan tidak menerima suap dan jujur dalam pemberitaan.

Ada empat macam kompetensi seorang wartawan agar bisa melakukan pekerjaannya dengan baik: (1) Kompetensi profesional, misalnya, melakukan editing, seleksi informasi, memahami komunikasi dasar dan sebagainya; (2) Kompetensi transfer, misalnya, penguasaan bahasa, presentasi informasi, berbagai genre dalam jurnalisme dan sebagainya; (3) Kompetensi teknis, misalnya, komputer, internet, disain grafis dan sebagainya; (4) Kompetensi tingkat lanjut, misalnya, pengetahuan terhadap isu liputan tertentu, ilmu-ilmu sosial, bahasa asing dan sebagainya.

Pendidikan jurnalistik di Indonesia, tidak hanya lemah di praktek tetapi juga etika.

Untuk itu, secara komprehensip perlu sepuluh kompetensi wartawan profesional yang terdiri dari: (1) Kompetensi-kompetensi penulisan (2) Kompetensi-kompetensi performa oral (3) Kompetensi-kompetensi riset dan ivestigatif (4) Kompetensi-kompetensi pengetahuan dasar (5) Kompetensi-kompetensi dasar web (6) Kompetensi-kompetensi audio visual (7) Kompetensi-kompetensi aplikasi dasar keterampilan komputer (8) Kompetensi-kompetensi etika (9) Kompetensi-kompetensi legal (10) Kompetensi-kompetensi karir.

Kenapa wartawan dituntut profesional dan berkompeten? Wartawan adalah pekerja intelektual. Dia harus mampu mengungkap atau menginformasikan suatu masalah secara lengkap tanpa harus melanggar delik pers. Maka profesi ini membutuhkan wawasan dan pengetahuan yang luas dan profesional.  Bahkan di Amerika Serikat (AS), seorang wartawan harus mengikuti jenjang pendidikan S3 (doktor) sehingga laporan ataupun berita-berita yang disajikan para wartawan benar-benar menjadi ruang publik atau menjadi bahan masukan dan informasi yang aktual. Wartawan profesional harus mampu mengungkap suatu kasus secara tuntas dan menjadi ruang publik.Kebebasan pers yang diagung-agungkan kalangan pers justru ditanggapi sebagian masyarakat dengan kecaman dan hujatan. Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Syamsul Muarif pernah menyebut lima penyakit pers, yaitu: pornografi, character assassination (pembunuhan karakter), berita palsu dan provokatif, iklan yang menyesatkan, serta wartawan yang tidak profesional (bodrex). Berbagai pihak kerap menyesalkan kekurangakuratan dan ketidakmampuan wartawan dalam mengolah pemberitaan. Jangan sampai terjadi kejenuhan masyarakat terhadap pers dikarenakan menjamurnya media yang lebih mengutamakan profit oriented. Masyarakat dan pembaca semakin pintar memilih media mana yang layak untuk di ’konsumsi’.

Akan menjadi tidak adil/ ada keberpihakan jika media massa/pers ternyata lebih mementingkan kepentingan golongan atau pihak tertentu. Tentunya berita & informasi media tersebut akan menguntungkan pihak tertentu dan secara tidak langsung akan mengarahkan opini dan cara berpikir pembacanya/ masyarakat dalam memahami sesuatu. Permasalahannya sudah banyak sekarang para politikus yang bermain bisnis di media massa. Ataupun sebaliknya para pengusaha berusaha untuk bermain di dunia politik.

Dalam mengikuti perkembangan jaman (teknologi) media massa dan pers juga perlu bermetamorposis, baik secara fisik media serta alat penunjangnya maupun kemampuan/skill SDM. Banyak ragam bentuk media yang berkembang di saat ini. Media cetak ada yang berbentuk koran, majalah, tabloid, newsletter, buletin, dll. Media elektronik berbentuk radio, website, surat elektronik, bahkan alat komunikasi pribadi seperti HP/ ponsel (sms/mms broadcasting) dapat dimanfaatkan sebagai media informasi. Bisnis media telah menjadi industri yang sangat besar dan menjanjikan keuntungan, dan mejadi perhatian banyak pihak. Apalagi ketika semakin mudahnya mengurus perijinan usaha media.

Terkait dengan Pemilihan Bupati 2008-20013 di Kabupaten Tapanuli Utara, Pers lokal dan Regional ataupun Nasional kiranya mampu bersikap independen dan menjaga integritasnya dalam setiap pemberitaan. Media harus mampu menjadi sarana pendidikan penyadaran politik bagi rakyat. Karena setiap calon memiliki peluang, setiap calon memiliki massa/ pendukung, setiap calon memiliki kepentingan. Ketika ada keberpihakan media/ kaum journalis terhadap calon tertentu, maka pada saat itu juga telah terjadi penyebaran bibit perpecahan. Apalagi jika ternjadi black campaign (kampanye hitam/ memfitnah dan menjelek-jelekan calon lain tanpa bukti yang jelas).

UU No. 10 tahun 2008 telah lengkap mengatur tentang peran dan batasan media dalam pemilu. Bagian ke enam mengenai pemberitaan, penyiaran dan iklan kampanye, Pasal 89 hingga pasal 97 mengatur secara detil mengenai peran media dalam pemilu. Semua diatur dengan jelas tentang pembagian waktu, jenis pemberitaan, penyiaran dan iklan kampanye untuk menjaga keadilan pemberitaan, penyiaran dan iklan kampanye. Hal ini diatur agar semua peserta pemilu mendapatkan hak dan kesempatan yang sama di media serta masyarakat. Pasal 98 s.d. pasal 100 mengatur sanksi dan pengawasan terhadap media yang diawasi oleh KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) serta Dewan Pers dan akan diatur lebih teknis dalam Peraturan KPU

Pemaparan di atas akan menciptakan integritas media tersebut semakin diakui oleh publik (memiliki kredibilitas), apalagi jika didukung dengan indepedensi/ketidakberpihakan media terhadap calon-calon Bupati ataupun calon legislatif. Pengurus media juga harus selektif dalam merekrut personilnya serta bertanggungjawab terhadap kesejahteraan para jurnalis. Jangan membiarkan para wartawan untuk mencari ”makan” sendiri di lapangan, karena itu akan membuka peluang terjadinya suap menyuap kepada wartawan ataupun ”berita pesanan”. Wartawan juga dilapangan kiranya jangan menggunakan kekuatan ”penanya” (tulisan di media) untuk mengintimidasi seseorang/golongan untuk kepentingan tertentu. ’Wartawan bukanlah preman bersenjatakan pena’ yang harus ditakuti. Mereka adalah partner semua pihak untuk kemaslahatan masyarakat (kesejahteraan masyarakat). Perlu ada

Kita masih punya mimpi suatu saat jurnalisme di Indonesia (khususnya di Tapanuli) benar-benar bisa menjadi media/sarana penyadaran politik yang mampu mencerahkan publik. Tanpa upaya perbaikan jurnalisme, kita kuatir, masa depan media kita juga suram, dan ini juga akan mempengaruhi mutu demokrasi Indonesia. SELAMAT atas terbitnya KORAN TAPANULI News di Tanah Tapanuli, semoga menjadi media yang memiliki integritas dan independensi dalam pemilu. Selalu akurat, tajam dan terpercaya dalam menyuarakan kondisi Tapanuli menuju Propinsi Tapanuli.

Semoga! ***

Jerry Marbun

21 September 2008 Posted by | opini | Tinggalkan komentar

jerit kepalaku

Kepala ku sakit sekali

Berdenyut sebelah kanan

Setelah 3 hari aku membuntang..

Aku tetap tidak bisa menemukan dengan pasti siapa yang salah…

Yang pasti aku tau, banyak waktu yang terbuang

Hampir setahun aku disini

Hampir puluhan juta uang telah aku buang

Maaf… ma dan pak.

Aku juga gak kuat di kampung

Begitu banyak yang aku gak suka disna

Kepalaku berdenyut lagi..

Mungkin sudah bernanah

Seperti kakiku yang mau kuamputaSI SENDIRI

Aku muak dengan otak-otak orang batak ini yang mau menang sendiri

Tapi aku juga orang batak.

Memang batak sialan.

Sok raja. Sok paling peduli dengan siapa…???

Maaf sayang aku tadi dak bermasuk begitu dengan kamu

Tapi aku gak tau mo bagaimana lagi

Kepala ku berdenyut lagi

Aku kangen dengan kondisi ku yang dulu. Sebelum mereka ke timtim..

Aku ingin perrrgi jauh dari sini.

Kepalaku berdenyut kembali … sakit… nanah ini ingin kukeluarkan

Maafkan aku dunia, kepalaku berdenyut lagiiii…

21 September 2008 Posted by | poet | | 1 Komentar

Mencari Bapak Suci Orang Batak, Menata HKBP yang Nauli

(Refleksi & Proficiat kepada Ephorus 2008-20012 terpilih Pdt. Dr Bonar Napitupulu)

Gereja Huria Kristen Batak Protestan atau HKBP merupakan sekte atau aliran kepercayaan kristen berdasarkan culture/budaya kesukuan yang terbesar dan tertua di dunia yang telah tersebar di setiap daerah propinsi di Indonesia, bahkan di banyak negara Internasional. Perkembangan dan penyebaran HKBP juga dikarenakan adanya tradisi merantau bagi naposo (pemuda/pemudi) untuk mengadu nasib dan mencari kesuksesan di daerah lain. Sehingga tidak aneh jika kita melihat gereja HKBP terdapat di setiap Propinsi di Indonesia, bahkan di banyak kabupaten. Orang Batak dikenal sebagai pekerja yang keras dan ulet jika di tanah rantau. Apalagi jika telah terjadi kawin silang anatara orang Batak dengan suku/warganegara lain dan telah diadatkan dengan mengangkat marga dan menjadi umat HKBP. Kondisi ini membuat HKBP semakin “berwana”.

Pendewasaan Rohani seseorang yang bertumbuh akan menjadikan orang tersebut semakin bermartabat dan membawa kesejukan Iman yang Holistik (menyeluruh) serta membawa berkat bagi setiap orang dalam kehidupannya. Lalu mengapa sering terjadi konflik dan permasalahan di tubuh Gereja (Kristen) yang ternyata sering di karenakan permasalahan para pemimpin Gerejanya yang notabene adalah seorang Pendeta (Hamba dan pelayan Tuhan). Apakah dikarenakan lebih besar kuasa daging dari pada Kuasa Roh dalam pendeta tersebut? Karena seorang Pendeta/Pimpinan Gereja adalah seorang Manusia Biasa juga. Ini adalah Fakta yang perlu kita sadari, dan fakta ini sering mengakibatkan perpecahan dalam tubuh Gereja dan lebih parahnya merembes pada konflik Jemaat/UMAT. Apalagi jika permasalahan gerejawi tersebut telah dibawa ke permasalahan Hukum dan memiliki Keputusan Pengadilan Negara (contoh Kasus Konflik Jemaat HKBP Pondok Bambu yang telah memiliki Keputusan PN Jakarta Timur tanggal 21 Agustus 2008 yang memvonis para Pendeta serta untuk membayar kerugian Material). Ini harus menjadi refleksi kita bersama sebagai umat beragama apapun, ketika permasalahan Iman dan keyakinan telah di intervensi oleh Negara (Keputusan Hukum).

Sejak tahun 1862 ketika datangnya Misionaris Dr.I.L Nommensen ke Tanah Batak dari Negeri Eropa setelah di baptis menjadi pendeta dan belajar budaya dan bahasa Batak dar iDr. Van Der Tuuk di Belanda, telah berdampak dan berpengaruh besar terhadap kemajuan serta perkembangan Orang Batak khususnya di Tapanuli. Nommensen tidak hanya memiliki misi penginjilan, selain itu beliau juga menyebarkan berbagai pengetahuan hidup dan peradaban kepada orang batak pada zaman itu. Misi Nommensen tentunga memiliki tantangan sangat besar, karena tidak mudah untuk merubah budaya dan kebiasaan orang batak yang pada saat itu masih menganut paham anemisme (menyembah “Opung-Opung”) serta pola hidup yang masih berpindah-pindah/primitif (malahan ada stigma di masyarakat dahulu bahwa orang batak makan orang). Kehadiran Nommensen dengan misi penginjilan semakin terorganisir dengan dibentuknya suatu Huria/perkumpulan/persatuan orang Kristen Batak Protestan yang kemudian di kenal dengan HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Jika kita merunut sejarah keorganisasian Lembaga Gereja HKBP yang berpusat di Pearaja-Tarutung-Kab. Tapanuli Utara ketika berdiri pada tanggal 7 Oktober 1861 di Paraosorat, Sipirok sebagai permulaan Misi Kongsi Barmen di Tanah Batak dengan kesepakatan 4 orang Misionaris Belanda dan Jerman yaitu HKBP (Heinen, Klammer, Betz dan P Van Asselt) yang menjadi penginjil di tanah Batak yang berpusat di Barmen, Wupertal, Jerman. Menyambut kelahiran gereja HKBP ke 150 tahun pada tahun 2011 nanti, pimpinan HKBP periode 2008 – 2012 yang terpilih dalam Sinode Godang ke 59 ini kiranya mampu merefleksikan dan mengkaselerasikan perkembangan Gereja HKBP selama ini dan yang akan datang.

Dengan Visi Gereja HKBP, yaitu : HKBP menjadi berkat bagi bangsa dan dunia melalui perannya sebagai garam dan terang, diawali dengan pembaharuan di dalam dirinya berlandaskan kasih, persatuan dan kesatuan, damai serta pengorbanan yang diamanatkan Yesus Kristus. Visi tersebut didukung oleh Misi HKBP, yaitu : meningkatkan mutu pelayanan jemaat dalam tri tugas panggilan gereja di bidang koinonia, marturia dan diakonia dengan melakukan pembinaan dan pemberdayaan kepada semua pelayan dan warga jemaat HKBP. Visi dan misi tersebut diharapkan akan membentuk Gereja HKBP memiliki kuasa Roh Kudus yang satu dan utuh dalam melaksanakan amanat Tuhan Yesus Kristus seperti yang tertulis dalam Matius 5 : 13.

Pdt. Dr. Bonar Napitupulu

Ephorus HKBP 2008-2012

Pdt. Dr. Bonar Napitupulu Ephorus HKBP 2008-2012 Sinode Godang (Rapat Akbar) merupakan puncak pertemuan para pendeta dan pimpinan daerah gereja HKBP untuk pemilihan Ephorus (pimpinan tertinggi Gereja HKBP dan sebagai Bapak Suci HKBP) serta membahas permasalahan internal dan sikap Ekternal Gereja HKBP di Masyarakat. Pada Sinode Godang ke 59 tahun 2008 ini Gereja HKBP di hadapi dengan banyak permasalahan Internal keorganisasian, diantaranya konflik internal di Gereja HKBP di Bandung di jalan Riau (permasalahan Administrasi SK Ephorus terhadap mutasi Pendeta Setempat yang berakibat pada terpecahnya umat HKBP di Bandung), Konflik HKBP Pondok Bambu Jakarta Timur. kesejahteraan dan rotasi penugasan Pendeta di daerah – daerah, tata administrasi dan Keuangan di setiap lembaga keorganisasian di Gereja HKBP, dll. Dilihat dari kiprah Gereja HKBP di masyarakat dan dunia Internasional tentunya lebih banyak lagi yang di harapkan oleh umatnya. HKBP memegang peranan dan sumbangsih yang cukup besar dalam Lembaga Gereja PGI (Persatuan Gereja-Gereja Indonesia), Lembaga Oikumene (Kristen Protestan dan Katolik) maupun dalam Badan Oikumene Dunia yaitu UEM, LWF (Lutheran World Fundation), WCC (Dewan Gereja se-Dunia) dan CCA (Church Council Association). Hal ini menjadi PR (Pekerjaan Rumah) besar bagi Sinode Godang serta Pimpinan HKBP yang terpilih.

Pada pemilihan Ephorus ini sempat diwarnai 3 calon kuat Ephorus yaitu Pdt. Dr. Bonar Napitupulu (selaku Ephorus Incumbent/ yang sedang menjabat periode 2004-2008), Pdt. WTP Simarmata, MA (Sekjen HBKP periode 2004-2008 & Ketua PGI Wil. SUMUT) dan Pdt. Dr. Jamilin Sirait (Rektor Universitas HKBP Nomensen dan Dosen STT Nomensen). Pdt. Jamilin Sirait sempat di harapkan menjadi kuda hitam dalam pemilihan Ephorus tersebut karena pengalamannya di HKBP telah lebih dari 33 tahun dan memiliki kemampuan intelektualitas yang mumpuni. Tetapi pada saat pendaftaran calon ternyata beliau mengundurkan diri dan menyatakan tidak mengikuti pertarungan pemilihan Ephorus HKBP.

Layaknya Pilkada, pada pemilihan Ephorus kali ini juga diramaikan dengan Tim Sukses (Timses) dari setiap calon yang telah bergerilya sejak tahun kemarin di setiap daerah. Bahkan ketika Sinode Godang (SG) berlangsung tanggal 1 September 2008, nampak anggota – anggota Timses yang juga merupakan anggota SG membagikan beberapa brosur dan membuat rapat – rapat kecil. Setelah melalui berbagai proses pertemuan, mulai dari orientasi peserta SG pada hari pertama, kemudian laporan pertanggungjawaban Ephorus periode 2004-2008 hingga pada saat pemilihan Ephorus dan Sekjend serta kepala Departement dan Praeses yang pada prinsipnya berlangsung dengan lancar dan tanpa gangguan yang cukup berarti (struktur lengkap pimpinan HKBP yang terpilih periode 2008-2012 lihat tabel 1). Kondisi persaingan Timses dan lobi-lobi para peserta SG dapat dimaklumi, ketika perkembangan jaman dan kondisi nyata menyatakan bahwa Gereja HKBP merupakan Organisasi keagamaan terbesar ke Tiga di Indonesia setelah NU (Nahdatul Ulama) dan Muhammadiyah serta memiliki bidang pelayanan yang cukup besar terhadap kira-kira 5 juta jemaat HKBP yang tersebar di seantero dunia. Apalagi jika kita iseng-iseng menghitung seberapa besar asset dan perputaran uang yang terdapat di Lembaga-lembaga di bawah naungan HKBP (Rumah sakit, Universitas, percetakan, STT, Sekolah-sekolah HKBP mulai dari TK hingga SMU/SMK, Akbid, lembaga pelayanan sosial lainnya baik yang internal HKBP maupun ekternal, dll).

Kiranya semua yang terlibat dalam pelayanan di Gereja HKBP tidak hanya terjebak pada aktivisme semata ataupun terpatok pada pelayanan penginjilan saja. Karena semua firman Tuhan adalah NYATA dan harus diimplementasikan oleh seluruh “anakNYA” dalam konteks kehidupan di jamannya. Agama manapun yang tidak mau beradaptasi dan menginfiltrasi (menyaring) perkembangan jaman (teknologi, bahasa, budaya, ekonomi, dll) pasti akan ditinggalkan oleh jemaatnya. Fenomena ini dialami oleh berbagai agama besar (Protestan, Katolik, Islam dll), terbukti dengan tumbuhnya banyak aliran/ sekte di setiap agama yang semakin inovatif dalam melayani jemaatnya sehingga menjadi pendorong bagi jemaat lain untuk migrasi ke sekte/aliran yang menurut mereka dapat menjawab kebutuhan iman dan disukainya. Lihat sudah berapa sekte yang lahir dan berkembang hanya karena permasalahan internal organisasi HKBP dan ‘like or dislike’ (suka atau ketidaksukaan) jemaat HKBP terhadap personal Pendeta ataupun pimpinan gerejanya (sintua)

Kiranya HKBP juga berkembang bukan hanya karena jemaatnya orang yang bersuku batak, atau lahir dari keturunan orang batak. Tetapi karena panggilan Tuhan untuk pelayanan setiap manusia tanpa memandang suku. Karena akan menjadi Indah (ULI) ketika kita semua umat Tuhan melihat bahwa damai di bumi kepada orang yang berkenan, sesuai dengan tema Sinode Godang ke 59 yaitu “beritakanlah Injil kesemua Makhluk” (Matius 16 : 15).

Jerry Marbun

Ephorus HKBP sejak 1881 hingga sekarang 2008 :

1. Pdt. DR. IL Nommensen 1881 – 1918

2. Pdt. Valentin Kessel (Pejabat Ephorus) 1918 – 1920

3. Pdt. DR. J Warneck 1920 – 1932

4. Pdt. P Landgrebe 1932 – 1936

5. Pdt. DR. E Verwiebe 1936 – 1940

6. Pdt. K. Sirait 1940 – 1942

7. Pdt. DR. he J. Sihombing 1942 – 1962

8. Ds. DR. he TS Sihombing 1962 – 1974

9. Ds. GHM Siahaan 1974 – 1986

10. Pdt. DR. SAE Nababan LLD 1986 – 1992

11. Pdt. Dr. PWT Simanjuntak 1992 – 1998

12. Pdt. Dr. JR Hutauruk 1998 – 2004

13. Pdt. Dr. Bonar Napitupulu 2004 – 2008

14. Pdt. Dr. Bonar Napitupulu 2008 – 2012

Struktur Pimpinan HKB 2008-2012 :

Ephorus : Pdt. Dr. Bonar Napitupulu

Sekjen : Pdt. Ramlan Hutahean

K.Dep.Koinonia : Pdt. Dr. Jamilin Sirait

K.Dep.Marturia : Pdt. Dr. Binsar Nainggolan

K.Dep.Diakonia : Pdt. Nelson Siregar STh

Praeses (26 wilayah/distrik)

Tabel 1

Tabel 2

21 September 2008 Posted by | opini | | 4 Komentar

Manifesto Gereja Katolik KAM

(sambutan Uskup Mgr. Sinaga OFM Cap dalam pemberkatan Gereja Katolik Stasi Yakobus Siborongborong)

“Sekali KATOLIK tetap KATOLIK, Katolik yang 100 %” seru Opung Sinaga (sebutan akrab Uskup) dengan lantang dan tegas dalam pembukaan khotbahnya di pemberkatan Gereja Katolik St. Yakobus Siborongborong dan pemberian Sakramen Krisma (Penguatan bagi Umat Katolik untuk siap menerima Tubuh Kristus) kepada lebih 200 orang umat Katolik di Paroki St. Kondraad, Lintongni Huta. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Minggu, 31 Agustus 2008 dan dihadiri oleh lebih dari 2000 umat Katolik di Paroki Lintong yang memiliki 28 Stasi (gereja kecil). Pada kesempatan tersebut hadir juga Bpk. Torang Lumban Tobing beserta istri selaku Bupati Tapanuli Utara, juga terlihat beberapa Muspida Kab. Taput (Kapolres Taput, Danramil, Camat Siborongborong, dll)

Lebih dari 30 menit Uskup Sinaga menguraikan Kotbahnya yang kemudian dirangkum oleh Uskup sebagai suatu MANIFESTO (sikap) Gereja Katolik Kesukupan Agung Medan (beserta umatnya). Yang pertama yaitu jadilah KATOLIK yang 100 %. Bahwa sebagai umat katolik janganlah kita merasa ragu dan tidak percaya diri akan kekhasan katolik (diantaranya membuat tanda salib dalam setiap doa). Kedua, bahwa Gereja Katolik menerima adat Batak dalam prosesi ibadahnya, hal ini telah teramkum dalam Konsili Vatikan II. Oleh Karena itu selama Misa (kebaktian) Bapa Uskup memakai Ulos batak di luar jubah kebesarannya, selain itu setiap musik gerejawi selama Misa diiringi oleh alat musik gondang, hal ini disebut Bapa Uskup sebagai Inisiasi dan Inkulturasi Tata Ibadah Katolik di setiap daerah sesuai dengan budayanya terutama di Tanah Batak. Ketiga, setiap kegiatan yang baik dan untuk kemaslahatan umat/ rakyat banyak adalah tangggungjawab dan pekerjaan umat Katolik.

Ketiga Manifesto tersebut diharapkan oleh Bapa Uskup sebagai dasar tindakan Umat Katolik di Siborongborong dalam berinteraksi dengan masyarakat di lingkungan dan keluarganya. Terutama dalam menyambut dan menanggapi situasi kondisi sosial kemasyarakatan di Tapanuli Utara (pertarungan politik Pilkada Bupati Taput, Pilkada Legislatif & Pilpres, dan permasalahan Sosial Kemasyarakatan lainnya).

Jerry Marbun

21 September 2008 Posted by | opini | 3 Komentar

Golput bagaikan hantu di setiap pilkada

Batakberkesan Weblog › Sunting — WordPress

Menjelang pilkada bupati Taput dan pemilu 2009, seperti pemilu sebelumnya dan yang terjadi di beberapa tempat, timbul kekhawatiran di berbagai pihak (terutama elit partai politik) terhadap membengkaknya jumlah GOLPUT (golongan putih). Golput/ golongan putih yang lebih dikenal orang ketika ada seseorang yang tidak memilih dalam suatu pemilihan. Padahal banyak aspek/ alasan kenapa seseorang tidak memilih atau tidak sahnya suatu surat suara yang menurut pemahaman masyarakat juga dikelompokkan sebagai golput.

Secara umum golput bisa dikarenakan oleh permasalahan administratif dan teknis yaitu tidak dan belum terdaftarnya seseorang dalam suatu pemilihan (domisili yang berpindah-pindah, belum memakai KTP nasional/tidak ada surat keterangan pindah, dll), surat suara yang tidak dicoblos/surat suara dianggap tidak sah, ketika hari pemilu berada di perjalanan. Bisa juga dikarenakan masalah prinsip yaitu sengaja tidak mendaftarkan diri karena sudah tidak ada kepercayaan lagi terhadap calon-calon dalam pemilu, atau sebagai sikap apatis terhadap pemilu & sikap protes terhadap sistem pemilu yang sekarang (di beberapa kasus di daerah pernah terjadi boikot pemilu oleh sekelompok orang/anggota partai terhadap partainya, dll). Dan berbagai macam alasan kenapa terjadi golput.

Fenomena Golput bukanlah hal yang baru, hal ini terjadi sejak pemilu pertama di Indonesia tahun 1955. pada masa itu golput diartikan sebagai ketidaktahuan masyarakat terhadap pemilu. Berbeda ketika zaman orde baru, golput diartikan sebagai gerakan moral dan sikap protes terhadap pola kepemimpinan Soeharto. Gerakan moral golput semakin dikenal ketika Arief Budiman beserta aktivis mahasiswa lainnya menggorganisir masyarkat untuk golput. Hal itu direspon oleh pemerintah dengan tindakan represif, sehingga sekitar tahun 1992 sampai tahun 2000 banyak aktivis dan tokoh politik yang ditangkap dan menghilang karena kampanye golput. Sebut saja Muchtar Pakpahan pernah menjadi tahanan politik, Budiman Sujatmiko (Tokoh Partai Rakyat Demokratik), dll. Golput pernah diharamkan oleh pemerintah. Tetapi wacana golput selalu timbul dan hangat di setiap menjelang pemilu.

Memilih untuk tidak memilih

Sebagai bagian dari kehidupan bernegara, seorang warga negara tentunya memiliki hak dan kewajiban dalam interaksi hidupnya. Dalam konteks HAM (Hak Asasi Manusia) secara gamblang diutarakan dalam konvensi PBB yang juga telah diratifikasi dalam UU RI (Undang-undang Republik Indonesia) yang salah saru bunyi ponitnya adalah bahwa setiap warga negara memiliki haknya dalam menentukan pilihannya di setiap Pemilihan Umum (termasuk di dalamnya adalah Hak untuk tidak memilih). Serta menjadi kewajiban Negara (dalam hal ini yang dimaksud adalah Pemerintah) untuk melindungi dan menjamin hak warga negara tersebut berjalan dengan baik. Karena dalam Pemilihan umum tersebut secara langsung warga negara dimanapun dia , ketika mereka telah menentukan haknya dalam pemilu (mencoblos calon eksekutif/legislatif/partai ataupun mereka tidak mempergunakan hak pilihnya yaitu memilih untuk tidak memilih dengan berbagai alasan tentunya) maka seorang warga negara telah menyerahkan sebagian haknya kepada institusi negara untuk menjalankan roda pemerintahan yang didalamnya termasuk untuk membuat peraturan perundang-undangan yang akan mengatur kebijakan publik. Kebijakan publik tersebut (dalam bentuk hukum perundang-undangan dari atas yaitu UU hingga Keputusan Lurah/Desa) akan mengatur semua aktivitas masyarakat (termasuk kepentingan privat seperti perkawinan, waris, dll) sampai mengatur aktivitas masyarakat yang umum/publik (contohnya pengaturan tentang prasarana umum jalan, lalu lintas, dll).

Hal ini menggambarkan bahwa memang benar Pemilihan Umum di segala level (Pilpres, pilgub, pilbup, pilkades dan pemilihan anggota legislatif) akan sangat menentukan arah dan perubahan suatu daerah dalam periode tertentu. Karena tidak gampang untuk merubah/menggantikan suatu pemimpin yang sedang berjalan (apalagi jika kita melihat sejarah Indonesia, presiden yang pernah jatuh dalam kepemimpinannya terjegal karena permasalahan politis). Dengan tingkat kesadaran yang penuh atau real maka suatu pilihan untuk golput sebenarnya suatu sikap dan upaya terakhir jika tidak ada pilihan lain yang dipercaya ataupun tidak ada cara lain yang bisa ditempuh.

Jadi wajar saja jika ada gerakan Golput yang dilakukan oleh beberapa kelompok kecil dalam setiap kesempatan pemilu. Partai politik dan lembaga pemerintahan sangat mewaspadai gerakan golput. Seperti yang pernah diutarakan oleh Ketua DPP suatu partai besar di Indonesia di beberapa media massa bahwa orang yang golput dalam pemilu 2009 nanti adalah bukan Warga Negara Indonesia. Hal ini langsung mendapat respon dan kritikan keras dari beberapa aktivis hukum dan HAM. Pada hakikatnya memilih adalah HAK setiap warga negara, sehingga ketika seseorang menentukan pilihan untuk tidak memilih itu adalah HAKnya. Telah timbul kerisauan di beberapa partai besar di Indonesia karena fenomena Golput semakin menonjol di masyarakat (bisa kita lihat di beberapa Pilkada di beberapa daerah belakangan ini yang menunjukkan lebih dari 25 % warganya yang tidak memilih). Karena legitimasi kesuksesan suatu pemilu ada pada kuantitas partisipasi warga negara yang berhak dalam pemilu. Asas demokasi dalam pengetian dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat yang juga bisa diartikan sebagai suara terbanyak yang menang (50+1). Bagaimana jika kuantitas golput menjadi pemenang dalam suatu pemilihan?apakah pemilu tersebut absah atau sah? Bagaimana juga dengan kekuatan demokratisasi sang pemenang pemilu tersebut dalam melakukan proses pemerintahannya. Bisa kita hitung-hitungan secara kasar jika jumlah pemilih ada 300.000 ribu, lalu jumlalh kandidat ada 6 pasang calon kepala daerah. Kalau pemenang hanya mendapatkan 30% dari jumlah pemilih berarti Cuma 90.000 orang yang memilihnya dan ada sekitar 40% orang tidak melakukkan pemilihan/golput dan sisanya di pasangan lainnya.

Yang terpenting dari segala perdebatan dan fenomena diatas sebaiknya dikarenakan oleh KESADARAN seutuhnya warga negara itu sendiri yang sepenuhnya. Karena peranan rakyat dalam segala hal aspek publik tentunya sangat mempengaruhi arah kemajuan bangsa. Oleh karena itu dianggap penting untuk melakukan pendidikan politik bagi setiap warga negara, baik dengan kaderisasi oleh partai ataupun dalam sistem pendidikan formal supaya GOLPUT tidak menjadi HANTU di setiap Pilkada.

Jerry Marbun

12 September 2008 Posted by | Uncategorized | , | Tinggalkan komentar

mencari pemimpin TAPUT yang Visioner

Berbagai cara orang dilakukan untuk menjadi tokoh besar dan berpengaruh di lingkungannya. Apalagi menjelang pelaksanaan pemilu, ketokohan menjadi hal yang maha penting, kalau perlu diraih dalam waktu cepat. Sehingga berbagai cara dilakukan untuk menciptakan penokohan tersebut dengan harapan akan menimbulkan simpatisme dan kepatuhan fans/ pengikutnya untuk memilih tokoh tersebut dalam pemilihan.

Pertanyaannya, apakah seorang tokoh adalah pemimpin, atau apakah seorang pemimpin bukanlah seorang tokoh? Bagi sebagian pihak popularitas dan karisma sang Tokoh bukanlah segala-galanya, tetapi hanya salah satu dari sekian syarat yang harus dimiliki oleh seorang calon pemimpin. Kita bisa belajar dari sejarah kepemimpinan yang ada di TAPUT selama ini. Tidak untuk memperbandingkan kepemimpinan para pemimpin kita terdahulu, karena setiap pemimpin memiliki karakteristik kepemimpinannya masing-masing. Tetapi lebih untuk melihat latarbelakang dan proses serta efek/dampak kepemimpinan mereka. Karena itu akan membantu kita dalam menentukan pemilihan nantinya. Seorang pemimpin akan mempengaruhi arah kedepan suatu kelompok atau organisasi.

Syarat kepemimpinan selayaknya tidak hanya mengutamakan batasan Fisik dan material (usia-jenis kelamin-domisili-dll) saja. Salah satu cara untuk mencari pemimpin yang visioner adalah dengan melahirkan kepemimpinan muda (tidak diartikan secara harafia muda dalam arti usia, muda yang dimaksud adalah yang bisa menjawab tantangan jaman serta kebutuhan rakyatnya) melalui regenerasi kepemimpinan di setiap organisasi. Regenerasi seharusnya dilakukan sejak dini (awal) di setiap lini/ bagian. Hal utama yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kematangan mental ideologi dan pengalaman. Sehingga tidak ada alasan untuk terjadi krisis kepemimpinan.

Kabupaten Tapanuli Utara merupakan daerah yang cukup banyak mengalami masa kepemimpinan sejak jaman penjajahan hingga hampir 63 tahun RI merdeka. Kita boleh memiliki penilaian masing-masing mengenai kondisi TAPUT saat ini, tetapi yang pasti bahwa Masyarakat TAPUT wajib berefleksi diri dan bertanya KENAPA TAPUT seperti ini ? lihat sektor ekonomi (Upah Minimum Kabupaten Taput 2008 adalah yang terkecil dibandingkan 3 Kabupaten pecahannya), kesehatan, pertanian & perkebunan, pendidikan, budaya & pariwisata, hubungan dengan daerah lain (tingkat kabupaten, antar propinsi ataupun lintas negara)

Kondisi tersebut tidak terjadi begitu saja, ada proses dan pelakunya (pemerintah eksekutif&legislatif-investor/pelaku bisnis-masyarakat). Dalam konteks HUKUM dan HAK ASASI MANUSIA dinegara manapun yang telah menganut sistem demokrasi, pemimpin eksekutif (Presiden-Gubernur-Bupati) ataupun legislatif (DPR)

Selayaknya pemimpin tidak hanya terjebak pada kerja-kerja semata, karena seorang pemimpin bukan hanya sekedar tukang/pelaksana. Pemimpin harus memiliki pemikiran kedepan, akan dibawa kearah mana daerah dan rakyatnya. Karena pembangunan daerahnya, kecerdasan rakyatnya serta mentalitas/karakter masyarakat dibentuk dengan proses yang demikian panjang. Apalagi periodesasi kepemimpinan yang hanya 5 tahun dan setiap pemimpin terkadang lebih sering tidak berkesinambungan. Oleh karena itu sebuah visi bersama masyarakat sangatlah penting. Terlepas siapapun yang terpilih untuk memimpin, mereka berkewajiban untuk menjalankan visi tersebut. Visi seperti apa yang diharapkan dapat membawa Kabupaten Tapanuli Utara mengejar ketertinggalan? Visi adalah arahan jauh kedepan, sebuah cita-cita atau keinginan yang diharapkan. Sebuah visi harus memiliki tolak ukur dan progres/ tahapan proses. Sehingga semua element masyarakat dapat memonitor dan mengevaluasi bersama. Itulah hakekat dari demokrasi

Dari aspek proses, demokrasi adalah seni untuk mencapai kompromi (the art of compromises) terhadap perbedaan kepentingan, bukan sama sekali alat untuk memaksakan kehendak atau kepentingan, apalagi semata alat memperjuangkan kepentingan pribadi atau kelompok seperti tak jarang masih diekspresikan dalam praktek demokrasi kita selama ini.

Agak susah untuk mencari Pemimpin yang Visioner dan kerakyatan. Karena seorang pemimpin yang visioner dan Kerakyatan haruslah memiliki sifat-sifat kepemimpinan yaitu : 1. disiplin akan dirinya sendiri serta rakyat, 2. memiliki pengamatan cerdik dan cara pandang yang cerdas terhadap suatu permasalahan dan target/tujuan, 3. bijak dan berani dalam mengambil keputusan internal ataupun yang berhubungan dengan kepentingan umum, 4. fleksibel tetapi memiliki karakter yang kuat di publik ataupun ketika menghadapi permasalahan, 5. cakap/mampu mengorganisir dan memiliki sistem serta strategi kepemimpinan, 6. berjiwa besar serta memiliki keyakinan iman yang teguh. Niscaya dengan ke 6 sifat tersebut akan tercipta seorang pemimpin yang mampu membawa kesejahteraan umum.

Dalam konteks pilkada Kab.Taput, harus ada kebanggaan dan keprihatinan bersama dalam memilih dan menjalankan kepemimpinan yang terpilih. Kebanggaan terhadap potensi dan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap daerahnya, keprihatinan terhadap segala yang terjadi di kampung halaman, hal ini akan menciptakan kepedulian terhadap semua masyarakat. Karena sudah biasa dalam pemilihan ada yang menang dan ada yang kalah. Kiranya yang menang memiliki mental untuk menang dan tetap setia pada janjinya dan dapat merangkul semua pihak, begitu juga dengan pihak yang kalah berjiwa besar dan tetap memperjuangkan visi mereka untuk kemajuan Taput tanpa harus menjadi barisan sakit hati dan mundur teratur dalam pembangunan Taput. Apalagi dengan semakin banyaknya balon yang ikut bertarung (4 pasang balon dari partai dan 2 pasang yang independent) tentunya patut untuk kita cermati bersama. Tidak harus dengan menjadi Bupati ataupun anggota Legislatif untuk bisa membangun kampung halaman (Martabe). Setiap orang dan organisasi dapat menjadi partner dan sosial cotrol terhadap pemerintah.

Kesanalah demokrasi kita harus diperjuangkan. Kekeliruan kita dalam memahami dan mempraktekan demokrasi hanya akan menambah daftar panjang angka dan persoalan kemiskinan. Karena ketika terjadi kesalahan dalam memilih pemimpin maka selama 5 tahun hidup masyarakat akan dipenuhi dengan penyesalan. Apalagi dengan asas DARI – OLEH – dan UNTUK RAKYAT, tentunya proses demokratisasi dalam mencari Pemimpin TAPUT yang visioner adalah dengan cara mendengarkan keinginan Rakyat, melibatkan Rakyat serta siap di evaluasi oleh Rakyat. Karena RAKYAT yang seutuhnya TIDAK BISA DIBELI.

Jerry Marbun

12 September 2008 Posted by | Uncategorized | | 3 Komentar