Batakberkesan Weblog

memorie`s & future of Batax`s

Manifesto Gereja Katolik KAM

(sambutan Uskup Mgr. Sinaga OFM Cap dalam pemberkatan Gereja Katolik Stasi Yakobus Siborongborong)

“Sekali KATOLIK tetap KATOLIK, Katolik yang 100 %” seru Opung Sinaga (sebutan akrab Uskup) dengan lantang dan tegas dalam pembukaan khotbahnya di pemberkatan Gereja Katolik St. Yakobus Siborongborong dan pemberian Sakramen Krisma (Penguatan bagi Umat Katolik untuk siap menerima Tubuh Kristus) kepada lebih 200 orang umat Katolik di Paroki St. Kondraad, Lintongni Huta. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Minggu, 31 Agustus 2008 dan dihadiri oleh lebih dari 2000 umat Katolik di Paroki Lintong yang memiliki 28 Stasi (gereja kecil). Pada kesempatan tersebut hadir juga Bpk. Torang Lumban Tobing beserta istri selaku Bupati Tapanuli Utara, juga terlihat beberapa Muspida Kab. Taput (Kapolres Taput, Danramil, Camat Siborongborong, dll)

Lebih dari 30 menit Uskup Sinaga menguraikan Kotbahnya yang kemudian dirangkum oleh Uskup sebagai suatu MANIFESTO (sikap) Gereja Katolik Kesukupan Agung Medan (beserta umatnya). Yang pertama yaitu jadilah KATOLIK yang 100 %. Bahwa sebagai umat katolik janganlah kita merasa ragu dan tidak percaya diri akan kekhasan katolik (diantaranya membuat tanda salib dalam setiap doa). Kedua, bahwa Gereja Katolik menerima adat Batak dalam prosesi ibadahnya, hal ini telah teramkum dalam Konsili Vatikan II. Oleh Karena itu selama Misa (kebaktian) Bapa Uskup memakai Ulos batak di luar jubah kebesarannya, selain itu setiap musik gerejawi selama Misa diiringi oleh alat musik gondang, hal ini disebut Bapa Uskup sebagai Inisiasi dan Inkulturasi Tata Ibadah Katolik di setiap daerah sesuai dengan budayanya terutama di Tanah Batak. Ketiga, setiap kegiatan yang baik dan untuk kemaslahatan umat/ rakyat banyak adalah tangggungjawab dan pekerjaan umat Katolik.

Ketiga Manifesto tersebut diharapkan oleh Bapa Uskup sebagai dasar tindakan Umat Katolik di Siborongborong dalam berinteraksi dengan masyarakat di lingkungan dan keluarganya. Terutama dalam menyambut dan menanggapi situasi kondisi sosial kemasyarakatan di Tapanuli Utara (pertarungan politik Pilkada Bupati Taput, Pilkada Legislatif & Pilpres, dan permasalahan Sosial Kemasyarakatan lainnya).

Jerry Marbun

21 September 2008 - Posted by | opini

3 Komentar »

  1. Agama tidak bisa dan boleh dicampur dengan politik…Tolong dipikirkan hal ini wahai pejabat pemerintah jangan mengotori agama…dan wahai petinggi2 gereja jangan mau dizolimmi oleh pejabat2 pemerintah yg tidak jelas maksud dan tujuannya hahaha…

    Komentar oleh Larry Sena Lumban Gaol | 19 Oktober 2008 | Balas

  2. udah lama ga baca postingan kamu, Bang…
    sibuk ya…kerjaan atau sakit??? huehehe…
    nulis lagi dong…

    Komentar oleh dwi | 2 April 2009 | Balas

  3. Salam kenal..🙂

    Komentar oleh Pargodungan | 1 Mei 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: