Batakberkesan Weblog

memorie`s & future of Batax`s

mencari pemimpin TAPUT yang Visioner

Berbagai cara orang dilakukan untuk menjadi tokoh besar dan berpengaruh di lingkungannya. Apalagi menjelang pelaksanaan pemilu, ketokohan menjadi hal yang maha penting, kalau perlu diraih dalam waktu cepat. Sehingga berbagai cara dilakukan untuk menciptakan penokohan tersebut dengan harapan akan menimbulkan simpatisme dan kepatuhan fans/ pengikutnya untuk memilih tokoh tersebut dalam pemilihan.

Pertanyaannya, apakah seorang tokoh adalah pemimpin, atau apakah seorang pemimpin bukanlah seorang tokoh? Bagi sebagian pihak popularitas dan karisma sang Tokoh bukanlah segala-galanya, tetapi hanya salah satu dari sekian syarat yang harus dimiliki oleh seorang calon pemimpin. Kita bisa belajar dari sejarah kepemimpinan yang ada di TAPUT selama ini. Tidak untuk memperbandingkan kepemimpinan para pemimpin kita terdahulu, karena setiap pemimpin memiliki karakteristik kepemimpinannya masing-masing. Tetapi lebih untuk melihat latarbelakang dan proses serta efek/dampak kepemimpinan mereka. Karena itu akan membantu kita dalam menentukan pemilihan nantinya. Seorang pemimpin akan mempengaruhi arah kedepan suatu kelompok atau organisasi.

Syarat kepemimpinan selayaknya tidak hanya mengutamakan batasan Fisik dan material (usia-jenis kelamin-domisili-dll) saja. Salah satu cara untuk mencari pemimpin yang visioner adalah dengan melahirkan kepemimpinan muda (tidak diartikan secara harafia muda dalam arti usia, muda yang dimaksud adalah yang bisa menjawab tantangan jaman serta kebutuhan rakyatnya) melalui regenerasi kepemimpinan di setiap organisasi. Regenerasi seharusnya dilakukan sejak dini (awal) di setiap lini/ bagian. Hal utama yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kematangan mental ideologi dan pengalaman. Sehingga tidak ada alasan untuk terjadi krisis kepemimpinan.

Kabupaten Tapanuli Utara merupakan daerah yang cukup banyak mengalami masa kepemimpinan sejak jaman penjajahan hingga hampir 63 tahun RI merdeka. Kita boleh memiliki penilaian masing-masing mengenai kondisi TAPUT saat ini, tetapi yang pasti bahwa Masyarakat TAPUT wajib berefleksi diri dan bertanya KENAPA TAPUT seperti ini ? lihat sektor ekonomi (Upah Minimum Kabupaten Taput 2008 adalah yang terkecil dibandingkan 3 Kabupaten pecahannya), kesehatan, pertanian & perkebunan, pendidikan, budaya & pariwisata, hubungan dengan daerah lain (tingkat kabupaten, antar propinsi ataupun lintas negara)

Kondisi tersebut tidak terjadi begitu saja, ada proses dan pelakunya (pemerintah eksekutif&legislatif-investor/pelaku bisnis-masyarakat). Dalam konteks HUKUM dan HAK ASASI MANUSIA dinegara manapun yang telah menganut sistem demokrasi, pemimpin eksekutif (Presiden-Gubernur-Bupati) ataupun legislatif (DPR)

Selayaknya pemimpin tidak hanya terjebak pada kerja-kerja semata, karena seorang pemimpin bukan hanya sekedar tukang/pelaksana. Pemimpin harus memiliki pemikiran kedepan, akan dibawa kearah mana daerah dan rakyatnya. Karena pembangunan daerahnya, kecerdasan rakyatnya serta mentalitas/karakter masyarakat dibentuk dengan proses yang demikian panjang. Apalagi periodesasi kepemimpinan yang hanya 5 tahun dan setiap pemimpin terkadang lebih sering tidak berkesinambungan. Oleh karena itu sebuah visi bersama masyarakat sangatlah penting. Terlepas siapapun yang terpilih untuk memimpin, mereka berkewajiban untuk menjalankan visi tersebut. Visi seperti apa yang diharapkan dapat membawa Kabupaten Tapanuli Utara mengejar ketertinggalan? Visi adalah arahan jauh kedepan, sebuah cita-cita atau keinginan yang diharapkan. Sebuah visi harus memiliki tolak ukur dan progres/ tahapan proses. Sehingga semua element masyarakat dapat memonitor dan mengevaluasi bersama. Itulah hakekat dari demokrasi

Dari aspek proses, demokrasi adalah seni untuk mencapai kompromi (the art of compromises) terhadap perbedaan kepentingan, bukan sama sekali alat untuk memaksakan kehendak atau kepentingan, apalagi semata alat memperjuangkan kepentingan pribadi atau kelompok seperti tak jarang masih diekspresikan dalam praktek demokrasi kita selama ini.

Agak susah untuk mencari Pemimpin yang Visioner dan kerakyatan. Karena seorang pemimpin yang visioner dan Kerakyatan haruslah memiliki sifat-sifat kepemimpinan yaitu : 1. disiplin akan dirinya sendiri serta rakyat, 2. memiliki pengamatan cerdik dan cara pandang yang cerdas terhadap suatu permasalahan dan target/tujuan, 3. bijak dan berani dalam mengambil keputusan internal ataupun yang berhubungan dengan kepentingan umum, 4. fleksibel tetapi memiliki karakter yang kuat di publik ataupun ketika menghadapi permasalahan, 5. cakap/mampu mengorganisir dan memiliki sistem serta strategi kepemimpinan, 6. berjiwa besar serta memiliki keyakinan iman yang teguh. Niscaya dengan ke 6 sifat tersebut akan tercipta seorang pemimpin yang mampu membawa kesejahteraan umum.

Dalam konteks pilkada Kab.Taput, harus ada kebanggaan dan keprihatinan bersama dalam memilih dan menjalankan kepemimpinan yang terpilih. Kebanggaan terhadap potensi dan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap daerahnya, keprihatinan terhadap segala yang terjadi di kampung halaman, hal ini akan menciptakan kepedulian terhadap semua masyarakat. Karena sudah biasa dalam pemilihan ada yang menang dan ada yang kalah. Kiranya yang menang memiliki mental untuk menang dan tetap setia pada janjinya dan dapat merangkul semua pihak, begitu juga dengan pihak yang kalah berjiwa besar dan tetap memperjuangkan visi mereka untuk kemajuan Taput tanpa harus menjadi barisan sakit hati dan mundur teratur dalam pembangunan Taput. Apalagi dengan semakin banyaknya balon yang ikut bertarung (4 pasang balon dari partai dan 2 pasang yang independent) tentunya patut untuk kita cermati bersama. Tidak harus dengan menjadi Bupati ataupun anggota Legislatif untuk bisa membangun kampung halaman (Martabe). Setiap orang dan organisasi dapat menjadi partner dan sosial cotrol terhadap pemerintah.

Kesanalah demokrasi kita harus diperjuangkan. Kekeliruan kita dalam memahami dan mempraktekan demokrasi hanya akan menambah daftar panjang angka dan persoalan kemiskinan. Karena ketika terjadi kesalahan dalam memilih pemimpin maka selama 5 tahun hidup masyarakat akan dipenuhi dengan penyesalan. Apalagi dengan asas DARI – OLEH – dan UNTUK RAKYAT, tentunya proses demokratisasi dalam mencari Pemimpin TAPUT yang visioner adalah dengan cara mendengarkan keinginan Rakyat, melibatkan Rakyat serta siap di evaluasi oleh Rakyat. Karena RAKYAT yang seutuhnya TIDAK BISA DIBELI.

Jerry Marbun

12 September 2008 - Posted by | Uncategorized |

3 Komentar »

  1. setuju broo… taput emang tertinggal pembangunannya. kayak desa besar di bwah bukit….
    he.he.he..
    maju terus batak

    Komentar oleh jojor | 13 September 2008 | Balas

  2. maju terus abangku…ngoceh aja yg kaumau aku dukung selalu tp jgn kebanyakan di 1 halaman maksudku halamannya 1 aja terus dibuat link2x tulisannya gitu…contoh bila kita klik artikel Tapanuli maka akan terbuka detail berapapun halamannya…ngerti kan…horas sukses selalu…perbaiki nih website kalo g gw jamin sedikit orang yg ngebuka…abisss 1 halamannya panjanggg ke bawah cape dehhh

    Komentar oleh larry sena lumban gaol | 7 Oktober 2008 | Balas

  3. memang betul tetapi aku pernah membaca buku yg berjudul PEMIMPIN VISIONER DAN KREDIBEL dimana seorang pemimpin yang visioner haruslah seeorang pemimpin yang kredibel..

    Horas

    Komentar oleh inmyhand | 14 Januari 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: