Batakberkesan Weblog

memorie`s & future of Batax`s

Integritas dan Independensi Pers dalam Pemilu

(Selamat atas terbitnya TAPANULI News semoga menjadi sarana pendidikan politik dan gerakan moral bagi masyarakat dalam Pemilu)

Pers merupakan sebagai ujung tombak informasi bagi masyrakat. Kondisi ideal ini akan terwujud jika integritas dan independensi pers dan media massa tetap terjaga. Kenapa media massa/ pers diperlukan netralitas ataupun independensinya dalam setiap pemilihan? Dilihat dari fungsinya media massa/pers merupakan suatu wadah dan organisasi yang bertugas untuk menyampaikan data serta informasi yang nyata dan benar kepada publik terutama untuk permasalahan – permasalahan yang berkaitan dengan kepentingan publik sesuai dengan kode etik pers yang diakui oleh negara dan setiap insan pers. Media massa juga memiliki peran sebagai sumber pengetahuan dan hiburan. Karena sifat media massa yang rutin dan berkala maka secara tidak langsung media massa/ pers memiliki peranan dan pengaruh dalam membentuk cara pandang/ opini masyarakat.

Ada empat unsur yang harus diperhatikan para jurnalis dalam membidani tulisannya agar layak untuk dipublikasikan yaitu ; (1) FAKTUAL/nyata. Data dan informasi yang disajikan terdiri dari kejadian senyatanya (real event), berupa pendapat (opinion) serta pernyataan (statement) saksi/orang yang terlibat/ sumber berita. ”jangan sekali-kali mengubah fakta untuk memuaskan hati seseorang atau golongan. Jika sumber anda dapat dipertanggungjawabkan, itulah yang paling penting”. (2) ; AKTUAL/cepat. Didukung dengan perkembangan teknologi informasi (telepon, email, video streaming, dll) suatu berita (news berarti suatu informasi yang baru/new) harus up to date dan mendekati real time/ waktu yang sesungguhnya dimana ketika kejadian terjadi berita tersebut dapat langsung dinikmati publik. Oleh karena itu seorang jurnalis harus memahami teknologi tersebut. (3) ; PUBLISH/kepentingan umum. News/berita tersebut perlu diketahui masyarakat (UU, bencana,dll) dan menyangkut kepentingan masyarakat. (4) ; MENARIK/disajikan secara apik. Kemampuan journalis dalam menyajikan berita (teknik menulis, istilah-istilah dalam penulisan, bahasa yang digunakan lugas, memiliki sense of humor dalam menulis, dll) sehingga menimbulkan human interest.

The art of writing (seni menulis) merupakan hal penting untuk menjadikan berita lebih menarik dan layak dimuat. Rumus dasar 5W+1H (What-Where-When-Who-Why-How) harus dipegang penuh para Journalis. Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam penulisan berita, sebagaimana yang tertera dalam KODE ETIK JURNALISTIK, diantaranya ; Objektif terhadap suatu berita dengan check and recheck berita. Sebisanya membedakan antara kejadian/fact dan pendapat/Opinion, jangan hanya mencari sensasional. Mamppu memberitakan keterangan off the record/ no name jika diminta sumber berita demi keselamatan dan privacy sumber berita, memiliki integritas sebagai seorang jurnalis dengan tidak menerima suap dan jujur dalam pemberitaan.

Ada empat macam kompetensi seorang wartawan agar bisa melakukan pekerjaannya dengan baik: (1) Kompetensi profesional, misalnya, melakukan editing, seleksi informasi, memahami komunikasi dasar dan sebagainya; (2) Kompetensi transfer, misalnya, penguasaan bahasa, presentasi informasi, berbagai genre dalam jurnalisme dan sebagainya; (3) Kompetensi teknis, misalnya, komputer, internet, disain grafis dan sebagainya; (4) Kompetensi tingkat lanjut, misalnya, pengetahuan terhadap isu liputan tertentu, ilmu-ilmu sosial, bahasa asing dan sebagainya.

Pendidikan jurnalistik di Indonesia, tidak hanya lemah di praktek tetapi juga etika.

Untuk itu, secara komprehensip perlu sepuluh kompetensi wartawan profesional yang terdiri dari: (1) Kompetensi-kompetensi penulisan (2) Kompetensi-kompetensi performa oral (3) Kompetensi-kompetensi riset dan ivestigatif (4) Kompetensi-kompetensi pengetahuan dasar (5) Kompetensi-kompetensi dasar web (6) Kompetensi-kompetensi audio visual (7) Kompetensi-kompetensi aplikasi dasar keterampilan komputer (8) Kompetensi-kompetensi etika (9) Kompetensi-kompetensi legal (10) Kompetensi-kompetensi karir.

Kenapa wartawan dituntut profesional dan berkompeten? Wartawan adalah pekerja intelektual. Dia harus mampu mengungkap atau menginformasikan suatu masalah secara lengkap tanpa harus melanggar delik pers. Maka profesi ini membutuhkan wawasan dan pengetahuan yang luas dan profesional.  Bahkan di Amerika Serikat (AS), seorang wartawan harus mengikuti jenjang pendidikan S3 (doktor) sehingga laporan ataupun berita-berita yang disajikan para wartawan benar-benar menjadi ruang publik atau menjadi bahan masukan dan informasi yang aktual. Wartawan profesional harus mampu mengungkap suatu kasus secara tuntas dan menjadi ruang publik.Kebebasan pers yang diagung-agungkan kalangan pers justru ditanggapi sebagian masyarakat dengan kecaman dan hujatan. Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Syamsul Muarif pernah menyebut lima penyakit pers, yaitu: pornografi, character assassination (pembunuhan karakter), berita palsu dan provokatif, iklan yang menyesatkan, serta wartawan yang tidak profesional (bodrex). Berbagai pihak kerap menyesalkan kekurangakuratan dan ketidakmampuan wartawan dalam mengolah pemberitaan. Jangan sampai terjadi kejenuhan masyarakat terhadap pers dikarenakan menjamurnya media yang lebih mengutamakan profit oriented. Masyarakat dan pembaca semakin pintar memilih media mana yang layak untuk di ’konsumsi’.

Akan menjadi tidak adil/ ada keberpihakan jika media massa/pers ternyata lebih mementingkan kepentingan golongan atau pihak tertentu. Tentunya berita & informasi media tersebut akan menguntungkan pihak tertentu dan secara tidak langsung akan mengarahkan opini dan cara berpikir pembacanya/ masyarakat dalam memahami sesuatu. Permasalahannya sudah banyak sekarang para politikus yang bermain bisnis di media massa. Ataupun sebaliknya para pengusaha berusaha untuk bermain di dunia politik.

Dalam mengikuti perkembangan jaman (teknologi) media massa dan pers juga perlu bermetamorposis, baik secara fisik media serta alat penunjangnya maupun kemampuan/skill SDM. Banyak ragam bentuk media yang berkembang di saat ini. Media cetak ada yang berbentuk koran, majalah, tabloid, newsletter, buletin, dll. Media elektronik berbentuk radio, website, surat elektronik, bahkan alat komunikasi pribadi seperti HP/ ponsel (sms/mms broadcasting) dapat dimanfaatkan sebagai media informasi. Bisnis media telah menjadi industri yang sangat besar dan menjanjikan keuntungan, dan mejadi perhatian banyak pihak. Apalagi ketika semakin mudahnya mengurus perijinan usaha media.

Terkait dengan Pemilihan Bupati 2008-20013 di Kabupaten Tapanuli Utara, Pers lokal dan Regional ataupun Nasional kiranya mampu bersikap independen dan menjaga integritasnya dalam setiap pemberitaan. Media harus mampu menjadi sarana pendidikan penyadaran politik bagi rakyat. Karena setiap calon memiliki peluang, setiap calon memiliki massa/ pendukung, setiap calon memiliki kepentingan. Ketika ada keberpihakan media/ kaum journalis terhadap calon tertentu, maka pada saat itu juga telah terjadi penyebaran bibit perpecahan. Apalagi jika ternjadi black campaign (kampanye hitam/ memfitnah dan menjelek-jelekan calon lain tanpa bukti yang jelas).

UU No. 10 tahun 2008 telah lengkap mengatur tentang peran dan batasan media dalam pemilu. Bagian ke enam mengenai pemberitaan, penyiaran dan iklan kampanye, Pasal 89 hingga pasal 97 mengatur secara detil mengenai peran media dalam pemilu. Semua diatur dengan jelas tentang pembagian waktu, jenis pemberitaan, penyiaran dan iklan kampanye untuk menjaga keadilan pemberitaan, penyiaran dan iklan kampanye. Hal ini diatur agar semua peserta pemilu mendapatkan hak dan kesempatan yang sama di media serta masyarakat. Pasal 98 s.d. pasal 100 mengatur sanksi dan pengawasan terhadap media yang diawasi oleh KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) serta Dewan Pers dan akan diatur lebih teknis dalam Peraturan KPU

Pemaparan di atas akan menciptakan integritas media tersebut semakin diakui oleh publik (memiliki kredibilitas), apalagi jika didukung dengan indepedensi/ketidakberpihakan media terhadap calon-calon Bupati ataupun calon legislatif. Pengurus media juga harus selektif dalam merekrut personilnya serta bertanggungjawab terhadap kesejahteraan para jurnalis. Jangan membiarkan para wartawan untuk mencari ”makan” sendiri di lapangan, karena itu akan membuka peluang terjadinya suap menyuap kepada wartawan ataupun ”berita pesanan”. Wartawan juga dilapangan kiranya jangan menggunakan kekuatan ”penanya” (tulisan di media) untuk mengintimidasi seseorang/golongan untuk kepentingan tertentu. ’Wartawan bukanlah preman bersenjatakan pena’ yang harus ditakuti. Mereka adalah partner semua pihak untuk kemaslahatan masyarakat (kesejahteraan masyarakat). Perlu ada

Kita masih punya mimpi suatu saat jurnalisme di Indonesia (khususnya di Tapanuli) benar-benar bisa menjadi media/sarana penyadaran politik yang mampu mencerahkan publik. Tanpa upaya perbaikan jurnalisme, kita kuatir, masa depan media kita juga suram, dan ini juga akan mempengaruhi mutu demokrasi Indonesia. SELAMAT atas terbitnya KORAN TAPANULI News di Tanah Tapanuli, semoga menjadi media yang memiliki integritas dan independensi dalam pemilu. Selalu akurat, tajam dan terpercaya dalam menyuarakan kondisi Tapanuli menuju Propinsi Tapanuli.

Semoga! ***

Jerry Marbun

About these ads

21 September 2008 - Posted by | opini

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: